suararakyat.online

Bagikan Artikel

 

Tangerang Selatan – suararakyat.online

Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Tingkat Kecamatan Setu diselenggarakan di aula gedung Graha Widya Bhakti (BRIN) Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kamis (01/02/2024)

Musrenbang tingkat kecamatan merupakan suatu forum musyawarah antar pemangku kepentingan untuk membahas dan menyepakati langkah-langkah penanganan program kegiatan prioritas yang tercantum dalam daftar usulan rencana kegiatan pembangunan di wilayah/kelurahan yang diintegrasikan dengan prioritas pembangunan.

Camat Setu Erwin Gemala Putra menyampaikan dalam Musrenbang tingkat kecamatan Setu ini, delegasi masing-masing kelurahan mengusulkan program prioritas sesuai dengan kebutuhan masyarakat dari berbagai program.

“Hari ini kita menyepakati dengan sekala prioritas melalui para delegasi yang sudah ditunjuk di Musrenbang kelurahan. Adapun usulan di tingkat kecamatan akan diusulkan ditingkat kota dan kemudian ditujukan ke dinas-dinas terkait untuk pelaksanaan di tahun 2025,” ujarnya.

Sesuai usulan dari pagu anggaran, 60 persen untuk infrasturktur, sisanya 40 persen untuk pemberdayaan.

Sementara itu pagu anggaran untuk Kecamatan Setu Rp 3 miliar, sedangkan pagu anggaran masing-masing kelurahan secara sendiri.

Lanjut Erwin, dari sekala prioritas, Kecamatan Setu di beberapa kelurahan musim hujan terjadi longsor.

“Maka pembangunannya lebih ke drainase dan turap. Tentu memang berdasarkan sekala prioritas yang di mana tahun kemarin cukup banyak bencana. Oleh sebab itu penanganan banjir menjadi skala prioritas,” bebernya.

Sementara Ketua Dewan Abdul Rasyid dalam sambutan menyampaikan, kondisi musim hujan wilayah Setu berpotensi longsor dan persoalan jumlah anak muda antara sektor formal tidak berbanding lurus sehingga perlu peningkatan skill sehingga bisa.

Dirinya mengatakan, potensi tanah longsor menjadi fokus utama di Kecamatan Setu lantaran saat ini sudah memasuki musim penghujan.

“Saya kira yang pertama kalau kondisi musim hujan, potensi longsor,” tambah ia.

Hak lain yang perlu didorong berkaitan dengan persoalan jumlah anak-anak muda di sektor formal, maka perlu didorong program-program yang sifatnya up-skill.

“Tingkatkan skill keterampilan sehingga mereka bisa juga melakukan kreativitas tidak tergantung pada sektor formal,” tutup Abdul Rasyid.

DM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *