suararakyat.online

Bagikan Artikel

 

Jakarta – suararakyat.online

Usaha Kuliner Lamongan seperti Pecel Lele, Soto, Tahu Campur, Ayam Goreng dan Bakar sangat menjanjikan masa depan ekonomi bangsa Indonesia. Menjadi peluang besar bagi Milenial dan Gen Z menjemput Puncak atau window of opportunity bonus demografi 2030 wujudkan Indonesia Maju 2045. Saat ini saja tak kurang Rp 70-90 trilyun per tahun perputaran usaha Kuliner Lamongan di Indonesia dan di luar negeri. Ke depan dipastikan jauh lebih besar dengan dukungan teknologi dan inovasi milenial dan gen Z. Yuk berbondong-bondong buka usaha kuliner Lamongan untuk Indonesia Maju 2045, seru dr. Ali Mahsun ATMO M Biomed Cah Ndeso Asli Pinggir Lor Kali Brantas Pelosok Kampung Mojokerto Jawa Timur kepada anak muda milenial dan gen Z.*

Jakarta,_ Setiap orang di negeri ini pasti kenal Pecel Lele Lamongan mulai Gen X, Milenial mau pun Gen Z. Bahkan dikenaldi luar negeri. Pecel Lele Lamongan sangat di kenal se-antero jagat bumi. Sejarah singkatnya, diawali 3 warga Lamongan merantau ke Jakarta 1965-1966, yaitu H. Abas, H. Jasmadi dan H Kasma’i buka usaha Soto Lamongan. Terinspirasi di Jakarta ada Pencak Lele Betawi, warga perantau Lamongan buka usaha Pecel Lele Lamongan. Pertama kali di Jakarta 1993 dirintis Cak Wiji yang saat ini lapak usahanya di Pluit Jakarta Utara, tutur Ketia Umum Komite Ekonomi Rajyat Indonesia (KERIS) dr Ali Mahsun ATMO M Biomed dalam Special Program TV Swasta di Lapak Usaha SOTO LAMONGAN 78 CAK WIJI, Pluit Jakarta Utara, Rabu, 6 Desember 2023.

Dari 1993 hingga saat ini, se-Jabodetabek ada 25 ribu Pedagang Pecel Lele Lamongan. Per malam butuhkan 100 ton ikan lele. Artinya per bulan 3 ribu ton dan 36 ribu ton per tahun ikan lele terserap usaha kuliner Lamongan Se-Jabodetabek, imbuh Ali Mahsun ATMO, dokter ahli kekebalan tubuh lulusan FKUB Malang dan FKUI Jakarta yang juga Presiden Kawulo Alit Indonesia (KAI)

Disamping Pecel lele Lamongan, mereka umumnya juga jualan Soto, Ayam Goreng dan Bakar, Aneka Ikan, dan tahu Campur Lamongan. Omset rata-rata Rp 2-3 juta per hari atau Rp 50-75 M per malam dari 25 ribu Usaha Kuliner Lamongan Se-Jabodetabek. Artinya per bulan sebesar Rp 1,5-2,25 triyun dan per tahun Rp 18-27 trilyun, tambah Ali Mahsun ATMO putra asli Mojokerto Jawa Timur yang juga Ketua Umum APKLI Perjuangan.

Tentunya perputaran usaha kuliner Lamongan Se-Indonesia dan yang ada di luar negeri adalah besar dan fantastis. Yaitu tak kurang dari Rp 70-90 trilyun per tahun. Ini sesuai dengan data Pemkab Lamongan Jawa Timur bahwa warga perantau Lamongan sebanyak 84 ribu tersebar diseluruh Indonesia dan sebagian di luar negeri. Fakta ini tunjukkan bahwa potensi dan kekuatan ekonomi rakyat berbasis komunitas adalah sangat besar. Selain Usaha Kuliner Lamongan, masih ada segudang lagi Kuliner Adiluhung Nusantara di negeri ini yang harus naik kelas, maju dan unggul di era one digital of economy. Bagian dari peluang usaha bagi Milenial dan Gen Z jemput puncak atau window of opportunity bonus demografi 2030 wujudkan Indonesia maju 2045, pungkas mantan Ketua Umum Bakornas LKMI PB HMI dan Mantan Sekretaris Lembaga Sosial Mabarrot PBNU.

(Supriyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *